Welcome to Madura through this approach bridge, and set your direction
at Trunojoyo University
Jembatan SURAMADU untuk pertama kali
diresmikan oleh Presiden Megawati pada 20 Agustus 2003, dan diresmikan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Jembatan Nasional
Suramadu, nama tepatnya seperti itu menghubungkan Pulau Jawa (melalui Surabaya)
dengan Pulau Madura (Dsn. Kesek, Bangkalan). Sudah hampir mencapai usia lima
tahun jembatan ini dioperasikan. Baik pengendara mobil atau motor dapat
melintasi Jembatan Suramadu, baik dari Surabaya ke Bangkalan maupun sebaliknya.
Jembatan Suramadu dibangun untuk mempermudah akses masyarakat untuk dapat melintas dari Pulau Madura ke Pulau Jawa, maupun sebaliknya. Yang dulunya kebutuhan akan akses antar pulau hanya dapat dihubungkan melalui jalur transportasi laut dari Pelabuhan Kamal ke Pelabuhan Perak. Dengan dibangunnya Jembatan Suramadu, diharapkan perekonomian dan akses keluar masuk pulau menjadi lebih lancar.
Namun banyak pendapat masyarakat termasuk saya, akankah profit yang didapat dari jasa transportasi yang berbeda ini akan seimbang, karena mengingat jarak antara Jembatan Suramadu dengan Pelabuhan Kamal cukup dekat dan tidak seberapa jauh. Fakta yang terjadi hingga ssat ini Pelabuhan Kamal masih beroperasi secara normal, hanya saja tidak seramai sebelum diresmikannya Jembatan Suramadu sebagai media penghubung yang baru.
Ada saat dimana kedua alat penghubung ini berjalan maksimal, yakni ketika menyambut datangnya bulan ramadhan, tepatnya pada saat mencapai pekan akhir menuju lebaran, warga madura rutin melakukan tradisi semacam mudik yang secara khusus disebut dengan istilah “toron”. Tidak hanya pada saat lebaran idul fitri, tetapi juga lebaran idul adha. Etnis madura yang tersebar di Pulau Jawa dari masing-masing daerah mereka berdomisili akan pulang ke tanah kelahiran mereka untuk merayakan hari besar bersama keluarganya.
Saat-saat seperti inilah jembatan suramadu dan pelabuhan kamal-pelabuhan perak akan ramai sesak dan padat akan penumpang kapal dan para pengendara kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang melintas untuk kembali ke asal mereka, Pulau Madura. Sebaliknya akses dari Madura ke Surabaya sangatlah sepi. Tidak perlu antri panjang untuk membeli tiket kapal atau dalam hal pembayaran loket masuk tol jembatan suramadu.
Pada sektor pendidikan, di Pulau Madura terdapat salah satu universitas negeri yang bernama Universitas Trunojoyo Madura, atau lebih sering dikenal dengan sebutan UTM/UNIJOYO. Kampus Universitas Trunojoyo terletak di daerah Telang – Kamal, Bangkalan. Kampus ini dulunya merupakan kampus yang sudah ada dengan nama Universitas Bangkalan (UNIBANG) untuk kemudian dilanjutkan dan diangkat sebagai Universitas Negeri pada Juli 2001 oleh Gus Dur dengan nama Universitas Trunojoyo Madura.
Dengan berdirinya Universitas Trunojoyo, akses yang dibutuhkan dapat melalui dua jalur transportasi, darat dan laut. Berdirinya kampus UTM memberi dampak positif terhadap pendapatan yang diterima untuk jasa transportasi laut, pelabuhan yang ada di daerah tersebut. Karena pelabuhan memang yang terdekat dengan posisi kampus, apalagi dengan saat ini UTM menjadi universitas negeri ke-7 yang ada di Jawa Timur membuat banyak pelajar yang ingin berkuliah di kampus UTM.
Seiring berjalannya waktu, UTM sudah banyak menerima mahasiswa baru yang hendak melanjutkan program studi dari SMA ke perguruan tinggi dan juga sudah menyelesaikan banyak pembangunan gedung-gedung penunjang sarana serta prasarana yang dibutuhkan oleh para mahsiswanya demi melancarkan kegiatan pembelajaran.
Tidak lagi sulit untuk menjangkau UTM, karena saat ini ada dua jalur yang dapat ditempuh dengan harga yang relatif terjangkau. Dua jalur tersebut juga tidak jauh dengan kampus UTM, sehingga banyak yang berminat dan tidak beranggapan untuk susah dalam menjangkau Madura untuk sampai ke kampus UTM.
Tidak hanya itu, pesona jembatan suramadu yang pada saat malam hari terkenal dengan keindahan lighting yang terpasang rapi dan elok membuat Madura lebih banyak dikenali masyarakat luar akan keindahan jembatan penghubung tersebut. Dan diharapkan perekonomian di Pulau Madura akan semakin berkembang dengan adanya alat penghubung yang sudah mampu mengatasi masalah masyarakat untuk melintas antar pulau.
Jembatan Suramadu dibangun untuk mempermudah akses masyarakat untuk dapat melintas dari Pulau Madura ke Pulau Jawa, maupun sebaliknya. Yang dulunya kebutuhan akan akses antar pulau hanya dapat dihubungkan melalui jalur transportasi laut dari Pelabuhan Kamal ke Pelabuhan Perak. Dengan dibangunnya Jembatan Suramadu, diharapkan perekonomian dan akses keluar masuk pulau menjadi lebih lancar.
Namun banyak pendapat masyarakat termasuk saya, akankah profit yang didapat dari jasa transportasi yang berbeda ini akan seimbang, karena mengingat jarak antara Jembatan Suramadu dengan Pelabuhan Kamal cukup dekat dan tidak seberapa jauh. Fakta yang terjadi hingga ssat ini Pelabuhan Kamal masih beroperasi secara normal, hanya saja tidak seramai sebelum diresmikannya Jembatan Suramadu sebagai media penghubung yang baru.
Ada saat dimana kedua alat penghubung ini berjalan maksimal, yakni ketika menyambut datangnya bulan ramadhan, tepatnya pada saat mencapai pekan akhir menuju lebaran, warga madura rutin melakukan tradisi semacam mudik yang secara khusus disebut dengan istilah “toron”. Tidak hanya pada saat lebaran idul fitri, tetapi juga lebaran idul adha. Etnis madura yang tersebar di Pulau Jawa dari masing-masing daerah mereka berdomisili akan pulang ke tanah kelahiran mereka untuk merayakan hari besar bersama keluarganya.
Saat-saat seperti inilah jembatan suramadu dan pelabuhan kamal-pelabuhan perak akan ramai sesak dan padat akan penumpang kapal dan para pengendara kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang melintas untuk kembali ke asal mereka, Pulau Madura. Sebaliknya akses dari Madura ke Surabaya sangatlah sepi. Tidak perlu antri panjang untuk membeli tiket kapal atau dalam hal pembayaran loket masuk tol jembatan suramadu.
Pada sektor pendidikan, di Pulau Madura terdapat salah satu universitas negeri yang bernama Universitas Trunojoyo Madura, atau lebih sering dikenal dengan sebutan UTM/UNIJOYO. Kampus Universitas Trunojoyo terletak di daerah Telang – Kamal, Bangkalan. Kampus ini dulunya merupakan kampus yang sudah ada dengan nama Universitas Bangkalan (UNIBANG) untuk kemudian dilanjutkan dan diangkat sebagai Universitas Negeri pada Juli 2001 oleh Gus Dur dengan nama Universitas Trunojoyo Madura.
Dengan berdirinya Universitas Trunojoyo, akses yang dibutuhkan dapat melalui dua jalur transportasi, darat dan laut. Berdirinya kampus UTM memberi dampak positif terhadap pendapatan yang diterima untuk jasa transportasi laut, pelabuhan yang ada di daerah tersebut. Karena pelabuhan memang yang terdekat dengan posisi kampus, apalagi dengan saat ini UTM menjadi universitas negeri ke-7 yang ada di Jawa Timur membuat banyak pelajar yang ingin berkuliah di kampus UTM.
Seiring berjalannya waktu, UTM sudah banyak menerima mahasiswa baru yang hendak melanjutkan program studi dari SMA ke perguruan tinggi dan juga sudah menyelesaikan banyak pembangunan gedung-gedung penunjang sarana serta prasarana yang dibutuhkan oleh para mahsiswanya demi melancarkan kegiatan pembelajaran.
Tidak lagi sulit untuk menjangkau UTM, karena saat ini ada dua jalur yang dapat ditempuh dengan harga yang relatif terjangkau. Dua jalur tersebut juga tidak jauh dengan kampus UTM, sehingga banyak yang berminat dan tidak beranggapan untuk susah dalam menjangkau Madura untuk sampai ke kampus UTM.
Tidak hanya itu, pesona jembatan suramadu yang pada saat malam hari terkenal dengan keindahan lighting yang terpasang rapi dan elok membuat Madura lebih banyak dikenali masyarakat luar akan keindahan jembatan penghubung tersebut. Dan diharapkan perekonomian di Pulau Madura akan semakin berkembang dengan adanya alat penghubung yang sudah mampu mengatasi masalah masyarakat untuk melintas antar pulau.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar